
Menurut Wikipedia, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah lembaga keuangan bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dan menyalurkan dana sebagai usaha BPR. Dengan lokasi yang pada umumnya dekat dengan tempat masyarakat yang membutuhkan.
Status BPR diberikan kepada Bank Desa, Lumbung Desa, Bank Pasar, Bank Pegawai, Lumbung Pitih Nagari (LPN), Lembaga Perkreditan Desa (LPD), Badan Kredit Desa (BKD), Badan Kredit Kecamatan (BKK), Kredit Usaha Rakyat Kecil (KURK), Lembaga Perkreditan Kecamatan (LPK), Bank Karya Produksi Desa (BKPD), dan/atau lembaga-lembaga lainnya yang dipersamakan berdasarkan UU Perbankan Nomor 7 Tahun 1992 dengan memenuhi persyaratan tatacara yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan tersebut diberlakukan karena mengingat bahwa lembaga-lembaga tersebut telah berkembang dari lingkungan masyarakat Indonesia, serta masih diperlukan oleh masyarakat, maka keberadaan lembaga dimaksud diakui.
Oleh karena itu, UU Perbankan Nomor 7 Tahun 1992 memberikan kejelasan status lembaga-lembaga dimaksud. Untuk menjamin kesatuan dan keseragaman dalam pembinaan dan pengawasan, maka persy-ratan dan tatacara pemberian status lembaga-lembaga dimaksud ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
Sebagaimana halnya dengan Bank Umum, masyarakat yang menyimpan dana di BPR juga dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), selama penempatan yang dilakukan tersebut memenuhi kriteria yang telah ditentukan LPS. Sebagai perbandingan, dari bulan Oktober 2012 hingga Maret 2013, jika LPS menjamin simpanan dalam rupiah pada Bank Umum dengan tingkat bunga 5,5% maka untuk BPR, LPS menjamin hingga tingkat bunga 8%. Hal ini membuat deposito berjangka yang ditawarkan BPR memiliki tingkat bunga yang lebih menarik dibanding Bank Umum. Berikut ini beberapa fakta menarik seputar perkembangan BPR konvensional (non-syariah) di Indonesia berdasarkan data yang diolah dari statistik perbankan yang diterbitkan Bank Indonesia hingga Maret 2013.
Hingga akhir Maret 2013, kredit yang disalurkan oleh BPR konvensional mencapai 52,6 triliun rupiah sementara dana yang dihimpun dari masyarakat dalam bentuk tabungan dan deposito (dana pihak ketiga) mencapai sekitar 45,5 triliun rupiah. Rata-rata kredit yang diberikan selama 6 bulan (Oktober 2012 hingga Maret 2013) sekitar 50,5 triliun rupiah sedangkan dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun rata-rata mencapai 44,6 triliun rupiah. Hal ini menunjukkan bahwa, dalam kurun waktu 6 bulan terakhir (hingga Maret 2013), BPR konvensional berhasil dengan baik menjalankan fungsi utama perbankan yaitu fungsi intermediasi.
Menyimak statistik perbankan BPR konvensional hingga Maret 2013 dan keberhasilan BPR dalam melakukan fungsi intermediasi, masih terbuka luas kesempatan bagi Bank Umum untuk melakukan channeling melalui BPR. Keuntungan yang diperoleh oleh Bank Umum melalui cara tersebut antara lain adalah dapat mengandalkan BPR dalam infrastruktur serta pengalamannya menilai resiko kredit debitur UMKM, yang selama ini mungkin belum didalami oleh Bank Umum. Dalam jangka panjang dengan kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia tersebut, diharapkan dapat menekan suku bunga kredit BPR konvensional karena semakin meningkatnya supply dan kemudahan akses dana dari Bank Umum melalui penyaluran kredit langsung atau tidak langsung kepada UMKM tersebut.
Leave a reply

Hal terpenting yang harus Anda siapkan ketika akan memulai sebuah usaha adalah modal. Sumber pendapatan untuk modal usaha pun kini tidak hanya berasal dari tabungan pribadi, tapi juga bisa berasal dari dana pinjaman. Kini telah banyak lembaga keuangan (konvensional maupun syariah) yang menyediakan fasilitas khusus untuk para nasabah yang ingin membuka usaha, yang biasa dikenal dengan kredit usaha kecil. Kredit usaha kecil merupakan bantuan pembiayaan atau pinjaman modal dari lembaga keuangan, seperti bank, untuk diberikan pada usaha kecil dalam jangka waktu yang ditentukan.
Pinjaman bank hanya salah satu dari berbagai pilihan yang tersedia untuk usaha kecil dalam mengumpulkan dana. Keputusan akhir tentang di mana untuk mengamankan dana tergantung pada keseimbangan antara pro dan kontra dari sumber. Seperti semua sumber pendanaan lainnya, pinjaman bank mempunyai keuntungan diantaranya adalah:
Kemudahan dan Dapat Diakses
Bank selalu dapat diakses pemakai karena mereka digunakan secara teratur untuk menyimpan tabungan atau menariknya. Setelah menjadi nasabah bank selama bertahun-tahun, bank menjadi nyaman dan akrab, dan layanan pribadi membuat itu tempat pertama dipertimbangkan untuk pinjaman.
Beberapa Pilihan Jenis Pinjaman
Semua bank mengiklankan jenis skema untuk merayu pengusaha mendirikan atau menjalankan bisnis. Pendapatan nyata bagi bank berasal dari bunga yang mereka tetapkan pada pinjaman. Pilihan seperti pinjaman berjangka (jangka panjang dan jangka pendek), pinjaman bisnis standar dan lain-lain yang tersedia untuk pengusaha.
Non Profit Sharing
Usaha patungan kapitalis dan investor setuju untuk memberikan pinjaman dalam pertukaran untuk bagian kepemilikan, hak untuk mempengaruhi pengambilan keputusan dan bagian dari keuntungan. Bank tidak meminta semua ini. Jika mereka melakukan sanksi pinjaman, mereka hanya tertarik untuk mendapatkan kepentingan mereka dan angsuran pembayaran kredit secara parsial.
Suku Bunga yang Lebih Rendah – Meskipun sulit untuk mendapatkannya, bank memberikan pinjaman pada tingkat bunga yang lebih rendah dari lambaga peminjaman lainnya seperti kartu kredit
Jaminan aman
Jika kita meminjam uang, pasti kita akan memberikan jaminan seperti sertifikat rumah, BPKB motor atau mobil. Sebagai nasabah kita tidak perlu khawatir karena bank akan menjaga segala jaminan miliki nasabahnya.
Pinjaman Bank Menawarkan Manfaat Pajak
Usaha kecil yang mengambil pinjaman dari bank menikmati beberapa bantuan dari pajak, karena presentase keuntungan digunakan untuk membayar kembali pinjaman tersebut dibebaskan dari pajak.
Namun, meminjam uang di bank tidak mudah. Produk-produk pinjaman bank rata-rata mencantumkan syarat yang relatif sulit dipenuhi, salah satunya adalah agunan atau jaminan. Besaran jaminan yang dimiliki nasabah untuk diajukan ke bank akan berdampak pada besaran dana yang bisa dicairkan bank. Faktor agunan juga mempengaruhi bunga kredit yang dikenakan bank kepada debitur. Untuk kredit dengan agunan, perbankan memberlakukan suku bunga secara bervariasi, rata-rata di kisaran belasan persen per tahun.
Leave a reply

Masalah pokok yang paling sering dihadapi oleh setiap perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha apapun selalu tidak terlepas dari kebutuhan akan dana (modal) untuk membiayai usahanya. Dana merupakan masalah pokok yang selalu ada dan selalu muncul dalam setiap usaha. Usaha keuangan dilaksanakan oleh perusahaan yang bergerak dibidang keuangan atau yang sering kita sebut dengan lembaga keuangan, dalam praktiknya lembaga keuangan digolongkan kedalam dua yaitu pertama lembaga keuangan bank dan kedua lembaga keuangan lainnya.
Lembaga keuangan bank atau kita sebut saja bank merupakan lembaga keuangan yang memberikan jasa keuangan yang paling lengkap, mulai dari menghimpun dana sampai menyalurkan dana. Sebaliknya lembaga keuangan lainnya atau lembaga pembiayaan lebih terfokus kepada salah satu bidang saja apakah penyaluran dana atau penghimpunan dana walaupun ada juga lembaga keuangan lainnya yang melakukan keduanya. Keunggulan kelompok lembaga keuangan bank adalah memberikan pelayanan keuangan yang paling lengkap diantara lembaga keuangan yang ada.
Lembaga keuangan yang merupakan suatu konsep simpan pinjam dengan prinsip syariah kini juga semakin berkembang. Masyarakat pun tentunya tidak asing lagi dengan keberadaan koperasi jasa keuangan syariah, jasa keuangan syariah hingga, bank perkreditan rakyat syariah (BPRS).
Salah satu yang sekarang kian berkembang pesat adalah BPR. Lantas, apa sebenarnya perbedaan dalam mengajukan kredit di BPR dengan bank umum? Simak jawabannya dalam beberapa ulasan dibawah ini.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membagi jenis bank di Indonesia berdasarkan undang-undang (UU) yang berlaku. Selain bank umum, Indonesia memiliki bank perkreditan rakyat (BPR). Secara karakteristik, BPR berbeda dengan bank umum.
Mengutip laman OJK, diungkapkan bahwa BPR adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah, yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Kegiatan BPR jauh lebih sempit jika dibandingkan dengan kegiatan bank umum karena BPR dilarang menerima simpanan giro, kegiatan valas, dan perasuransian. BPR biasanya memiliki segmen berbeda dengan bank umum.
Jika bank umum segmennya adalah masyarakat kelas menengah dan kelas atas, maka BPR biasanya menyasar segmen di masyarakat kelas menengah ke bawah. Hal ini berkaitan dengan kemampuan modal BPR.
Adapun usaha yang bisa dilaksanakan oeh BPR, yakni pertama, menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka, tabungan, dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.
Ketiga, memberikan kredit. Keempat, menyediakan pembiayaan dan penempatan dana berdasarkan Prinsip Syariah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Kelima, menempatkan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito berjangka, sertifikat deposito, dan atau tabungan pada bank lain
Leave a reply

Tahun 2013 merupakan tahun terkelam dalam perjalanan hidup Tutuk Kurniawan. Pengusaha yang telah 40 tahun malang melintang berbisnis di sektor transportasi ini terbelit kasus hukum yang membuatnya nyaris menjadi pesakitan.
Di saat terbelit masalah, tak ada seorang pun yang mau membantunya. Rekan-rekannya sesama pebisnis terkesan takut memberikan bantuan kepada Tutuk. Pun demikian pihak perbankan yang selama ini berhubungan baik dengannya, tak lagi mempercayainya untuk memberikan pinjaman modal. Padahal sebagai pebisnis yang menghidupi ribuan karyawan, dia membutuhkan bantuan modal untuk menjaga bisnisnya terus berjalan. Di masa-masa sulit itu, BPR Weleri Makmur justru mengulurkan tangan untuk membantu Tutuk. Pinjaman Rp 2 miliar yang diajukan Tutuk disetujui oleh BPR Weleri Makmur. Tak pelak hal itu menjadi kenangan manis di benak Tutuk. “Di saat saya mengalami masalah, semua orang takut membantu saya. Di saat seperti itu, BPR Weleri Makmur justru menolong saya dengan memberi pinjaman. Nilainya tidak banyak, tapi seperti setetes air di musim kemarau. Meski sedikit tapi sangat berarti ketimbang sekolam air di musim penghujan,” katanya, berbinar.
Dengan uang pinjaman tersebut, Tutuk mencoba untuk bangkit dari keterpurukan dan memulihkan nama baiknya. Perlahan namun pasti, bisnis dan nama baiknya kembali pulih. Pihak perbankan pun kembali menaruh kepercayaan padanya hingga sekarang.Saat dikunjungi tim WMagz di kantornya, Jalan Telaga Bodas nomor 1, Gajahmungkur, Tutuk sebenarnya tengah cukup sibuk mengurus bisnisnya. Namun dia meluangkan waktunya untuk menerima tim WMagz lantaran teringat dengan kenangan manisnya terhadap BPR Weleri Makmur.
Kepada WMagz, Tutuk menceritakan, kiprahnya dalam bisnis transportasi dimulai dengan mendirikan Surabaya Taxi pada 1 April 1973 silam. Saat itu, armada yang digunakannya masih merupakan armada pinjaman. Lima belas tahun kemudian, tepatnya 27 Desember 1988, dia mendirikan Taxi Atlas. Awalnya, dia hanya mengoperasikan 25 armada. Pada tahun 1996, armadanya mencapai 960 taxi dengan jumlah pengemudi lebih dari 3.600 orang. Saat ini, tak kurang dari 350 armada Taxi Atlas beroperasi di Kota Semarang.
1 Januari 1990, bisnis transportasi Tutuk resmi merambah bandara Ahmad Yani Semarang. Bekerja sama dengan Penerbad, dia mengelola taxi airport yang melayani penumpang pesawat dari dan menuju Bandara Ahmad Yani. Awalnya dia hanya mengoperasikan 74 armada taxi airport. Namun saat ini jumlah armada taxi airport yang beroperasi telah bertambah menjadi 125 armada.Baru-baru ini, Tutuk menandatangani kerjasama dengan pihak penyedia taxi online, Grab, di mana sebanyak 400 armada Taxi Atlas melayani masyarakat yang membutuhkan transportasi murah dan cepat. “Orang harus bersikap realistis dan melihat kondisi yang sedang berjalan. Tidak ada salahnya mengikuti perubahan zaman supaya bisnis yang sudah dibangun selama bertahun-tahun tidak mati,” ujarnya.
Selain taxi, dia juga menjadi operator pengelola Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang koridor 1,2, 5,dan 6 sejak 18 September 2009. Sebanyak 35 dari 85 armada BRT yang beroperasi melayani masyarakat Kota Semarang adalah miliknya.Tutuk menyadari, dalam bisnis apapun selalu ada pasang surut yang dihadapi. Agar dapat meraih kesuksesan, menurutnya seorang pengusaha harus memiliki kapabilitas, karakter dan kolateral yang mumpuni.“Harus ulet, rajin bekerja dan jujur. Jangan sekali-sekali menipu orang. Sekali nipu, habis usahamu yang sudah dibangun bertahun-tahun. Juga harus pantang menyerah dan ojo dumeh,” katanya. [LAU]
Leave a reply
Jaman sekarang emang susah ya cari pekerjaan. Cari kesana kemari susah sekali. Sekalinya ada lowongan, eh yang daftar banyak. Ada lowongan lagi tapi tidak sesuai dengan kemampuan. Padahal di jaman yang semakin maju ini, semua kebutuhan hidup harganya semakin naik alias mahal. Lalu apa yang harus kamu lakukan untuk menghadapi semua ini?
Jawabannya yaitu berwirausahalah. Wirausaha? Ya, wirausaha merupakan dimana seseorang berani untuk membuka sebuah usaha secara mandiri dengan mengerahkan segala sumber daya dan upaya meliputi kepandaian mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, penyusunan operasi untuk produk baru, serta mengatur permodalannya.
Bukankan wirausaha itu membutuhkan modal yang besar? Jika yang terbayang di dalam pikiranmu adlaah modal yang besar, kamu salah. Tidak semua wirausaha membutuhkan modal yang besar. Ada beberapa usaha dengan modal terbatas tapi bisnisnya dijamin menjanjikan loh. Kira-kira usaha dengan modal terbatas apa ya yang tepat untukmu? Berikut usaha dengan modal terbatas tapi menjanjikan.
Jalankan Usaha Dengan Modal Terbatas Tapi Menjanjikan
- Bisnis Kuliner
Yang pertama ada bisnis kuliner. Bisnis kuliner ini terbilang sangat menjanjikan. Kenapa tidak, semua orang pasti membutuhkan maka bukan? Tentu saja bisnis kuliner ini akan lebih cocok untuk kamu yang suka bergelut di dunia perkulineran ya.
Bisnis kuliner menjadi salah satu dari banyaknya usaha dengan modal terbatas yang paling sering dipilih oleh orang. Model bisnis ini juga bisa dijalankan dengan modal yang relatif kecil lho. Dan bila kamu tidak punya keahlian dalam dunia kuliner namun sangat ingin memiliki sebuah bisnis makanan, maka kamu bisa mempertimbangkan untuk membeli bisnis waralaba makanan dengan modal yang kecil, misalnya waralaba makanan camilan.
- Bisnis Jasa Jahit
Banyak orang yang ingin menjahitkan pakaiannya dengan model dan ukuran tertentu, terutama mereka yang memiliki tubuh yang agak gemuk atau terlalu kurus. Nah, mereka ini pasti selalu mencari jasa penjahit pakaian yang bisa membuat pakaian yang sesuai dengan bentuk tubuh mereka. Peluang bisnis yang satu ini sangat cocok untuk orang yang memiliki minat pada dunia fashion, tentunya kamu harus memiliki kemampuan dalam menjahit dan mendesain pakaian.
- Bisnis Toko Sembako
Memang peluang usaha membuka warung/ toko sembako (sembilan bahan pokok) sangat potensial karena pasti akan selalu dicari masyarakat. Namun, bisnis ini sudah cukup banyak yang menjalankannya, karena itu sebaiknya lihatlah tingkat persaingan yang ada, lokasi, dan juga modal yang dimiliki.
- Bisnis Laundry
Kalau diperhatikan bisnis laundry ini semakin menyebar dan semakin banyak layanannya, bahkan ada yang menawarkan untuk menjemput pakaian yang akan di laundry. Dan bisnis laundry biasanya akan sangat laris bila berlokasi di dekat kampus, kost-kostan. Bila kamu merasa bisnis ini cocok denganmu maka sebaiknya segera memulainya karena bisnis ini akan selalu dicari oleh banyak orang.
Nah itulah beberapa bisnis usaha dnenga modal terbatas yang dapat kamu tekuni. Semoga bermanfaat yaa.
Sedang mencari pinjaman untuk modal? BPRWM solusinya.
BPR Weleri Makmur mempunyai produk- produk yang beragam dari tabungan, deposito sampai kredit yang sesuai dengan kondisi nasabah, sehingga memungkinkan para nasabah dengan mudah mendapatkan layanan yang terbaik. Pelayanan terbaik dan kepuasan nasabah adalah satu hal yang sangat diutamakan, salah satunya dengan menjadi anggota dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sehingga simpanan masyarakat mendapat jaminan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Jl. Majapahit, Ruko Gayamsari No.17-20 Semarang
[024] 6733325
Leave a reply

Saat itu, modalnya sebesar Rp 10 juta dirasa sangat kecil untuk membeli bahan baku berupa besi dan baja. Belum lagi dia harus bisa menggaji dua orang karyawan yang membantunya. Walhasil, Gunawan hanya bisa menggarap proyek kecil-kecilan sesuai modal yang ada. Segalanya serba terbatas sampai pada tahun 2014 dia memutuskan untuk mengajukan permohonan kredit di BPR Weleri Makmur. Setelah kreditnya disetujui.
Gunawan mendapat tambahan modal sebesar Rp 30 juta. Dengan tambahan modal, Gunawan makin percaya diri untuk menggarap proyek kerja yang lebih besar. “Dulu saya hanya mengerjakan proyek kecil-kecilan. Setelah dapat bantuan kredit dari BPR WM, proyek makin banyak karena saya bisa menalangi modal untuk membeli besi dan membayar karyawan. Karena kalau ikut tender proyek dibayarnya per termin. Jadi mau tidak mau kami harus siap modal dulu,” katanya.
Gunawan mengakui, dia kerap jatuh bangun dalam menjalankan usahanya. Terlebih dengan makin banyaknya saingan bisnis, tantangan usahanya makin tinggi. “Kadang kita sudah beri harga minim, masih ada saingan yang harganya lebih minim dari produk kita,” ujarnya.
Meski demikian, Gunawan berprinsip untuk tetap jujur dalam berbisnis. Dia tidak ingin ikut-ikutan banting harga lalu memberikan material berkualitas rendah. Gunawan berkeyakinan, kejujuran seorang pengusaha berbanding lurus dengan rejeki yang akan didapatkannya. Semakin jujur seseorang, maka usahanya akan semakin meningkat. Maka, setiap kali akan mengikuti tender suatu proyek, Gunawan tidak pernah lupa membawa contoh bahan yang digunakannya. Dia ingin calon pembeli melihat bahwa tarif jasa yang ditawarkannya sesuai dengan kualitas bahan yang digunakan.“Kadang orang tidak mau tahu soal bahan. Tahunya harga murah tapi kualitas sama dengan yang mahal. Padahal ya tidak seperti itu. Barang yang rigid pasti harganya lebih mahal. Makanya saya ke mana-mana selalu bawa contoh bahan yang saya pakai,” tuturnya.
Untuk jasa pembuatan tangga berikut pemasangannya, Gunawan mematok harga Rp 450 ribu/meter. Adapun untuk rangka baja, tarifnya Rp 600 ribu/meter. Memasuki tahun kedelapan, usaha Gunawan yang berlokasi di Jalan Kali Kampar 1 nomor 13, Jagalan, Solo, berkembang cukup pesat. Pesanan dari dalam maupun luar kota terus berdatangan, hingga tak jarang dia kewalahan. Saat ini dia dibantu 5 orang karyawan tetap, dan 10 tenaga freelance. Setiap bulan, setidaknya dia mengantongi omset Rp 20 juta, di mana separuhnya merupakan laba bersihnya. Gunawan merasa beruntung telah menjadi mitra BPR WM. Baginya BPR WM telah membantu usahanya sehingga bisa maju seperti sekarang. “BPR WM sangat mempermudah usaha. Asal kita punya produk, mereka punya produk, pasti dipermudah. Di bank lain belum tentu semudah di BPR WM,” katanya. [Red]
Leave a reply

Sembilan tahun lalu, Ruswanto menjadi satu dari sekian banyak orang yang memetik keuntungan dari meroketnya harga tanaman Jenmanii dan Gelombang Cinta. Dia meraup omset mencapai ratusan juta dan memutar balik hidupnya dari seorang pensiunan menjadi seorang pebisnis tanaman hias.
Bermodal uang pesangon dari perusahaan tempatnya bekerja, mantan karyawan di sebuah televisi swasta nasional ini itu dari petani lokal. Dia berburu ke beberapa daerah untuk membeli Gelombang Cinta dengan harga rendah lalu menjualnya pada pembeli yang bersedia membayar dengan harga tinggi. Dari penjualan tanaman tersebut, Ruswanto meraih omzet hingga Rp 400 juta. Padahal modal awalnya tak sampai seperempat dari omzet. “Mungkin modal awalnya hanya sekitar Rp 50 juta,” katanya. Ketika demam Gelombang Cinta berakhir, Ruswanto terlanjur menikmati bisnis tanaman. Dengan uang hasil penjualan Gelombang Cinta, dia membeli tanah seluas 3 ribu meter persegi dan mendirikan Taman Alam Raya. Produknya diperbanyak dan divariasi, tak sekedar tanaman yang sedang booming saja, melainkan tanaman yang sekiranya dibutuhkan masyarakat. Dia juga menyediakan berbagai keperluan untuk taman seperti pot, patung dan lain sebagainya. Target pasarnya diperluas.
Tak hanya menyasar penikmat tanaman melainkan juga instansi, pengembang perumahan dan pabrik yang membutuhkan tanaman untuk mengisi taman di kompleknya. Untuk menarik pembeli, Ruswanto memilih menjual tanaman yang berbeda dari pesaingnya. Tak tanggung- tanggung, dia kerap berburu tanaman hingga ke Jakarta dan Medan, demi mendapat tanaman yang tidak dikembari penjual tanaman lain di Solo. “Saya tetap sediakan tanaman lokal yang saya beli dari petani di Kopeng dan Bandungan, karena tanaman jenis ini ada peminatnya sendiri. Kalau tanaman dari luar kota, cenderung beda dan minimalis. Tipe seperti ini banyak disukai instansi dan pengembang perumahan,” katanya
Ruswanto menyadari bahwa usahanya sangat bergantung pada cuaca. Agar tidak rugi, Ruswanto selektif memilih tanaman yang akan dijualnya. “Tanaman harus kuat dan tahan cuaca. Jadi jika musim hujan datang, tidak banyak yang mati,” ujarnya.
Untuk memperbesar usahanya, Ruswanto mengajukan bantuan modal di BPR Weleri Makmur. Meski baru pertama kali bersentuhan dengan BPR Weleri Makmur, namun Ruswanto sudah terkesan dengan pelayanannya yang cepat dan komunikatif. “Tidak susah. Petugasnya cepat dan komunikatif. Mudah- mudahan usaha saya lancar sehingga kerjasama ini berlanjut sampai nanti,” harapnya. [Red]
Leave a reply

Sabtu malam di awal Mei 2015 menjadi malam yang paling mencekam bagi para pedagang Pasar Johar. Percikan api yang muncul secara tiba-tiba dari salah satu kios menjadi biang malapetaka bagi pedagang yang menggantungkan hidupnya pada denyut Pasar Johar. Api dengan cepat merambat ke seluruh bagian pasar. Hembusan angin malam menambah kecepatan si jago merah melahap bangunan pasar beserta segala macam dagangan yang ditinggalkan para pedagang. Asap hitam tebal membumbung tinggi.
Malam itu, nyaris tak ada yang terlewat dari jilatan api. Sebagian besar kios Pasar Johar hangus terbakar, tak terkecuali kios suvenir milik pasutri Imam Sutrisno dan Dwi Ana Riyanti. Ana, sapaan Dwi Ana Riyanti, mengaku sempat terguncang setelah menerima kabar kebakaran tersebut. Tak ada waktu lagi baginya untuk menyelamatkan barang dagangan dan pesanan suvenir yang terlanjur dipersiapkan untuk diambil pelanggan keesokan harinya.
Dia juga harus merelakan hasil jerih payahnya selama dua tahun menjadi abu. Meski punya segudang alasan untuk sedih, Ana justru tak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan dan kekalutan. Dia mengingat satu per satu pelanggannya yang telah mempercayakan perlengkapan momen sakral mereka pada Ana. Dia tak mau musibah yang dialaminya turut dialami para pelanggannya. “Saya mencoba untuk legawa lalu menghubungi pelanggan satu per satu dan saya ceritakan kepada mereka apa yang terjadi. Meski saya sendiri sedang dilanda musibah, tapi saya tidak mau mengecewakan pelanggan yang sudah mempercayai saya. Apalagi, pernikahan adalah momen penting, sekali seumur hidup. Jadi saya berusaha tetap memenuhi pesanan pelanggan. Untuk item tertentu yang barangnya sudah tidak ada, saya tawarkan suvenir pengganti kepada mereka. Alhamdulillah mereka semua mengerti,” kenangnya.
Untuk menyediakan barang pengganti untuk pesanan yang terbakar, Ana harus merogoh tabungan pribadinya. Dari tabungan itu pula, Ana dan suaminya menyewa sebuah kios baru di kawasan Bubakan, tepatnya di Jalan Sendowo, dan memulai usaha dari nol. Ana sengaja tak menempati kios sementara yang disediakan Pemerintah Kota Semarang. Itu lantaran kios tersebut tak cukup besar untuk menampung barang dagangannya. Pun lokasinya pun tidak strategis sehingga dia memilih menyewa kios di lokasi lain. Saat ini, dengan dibantu permodalan oleh BPR WM, Ana membuka toko baru di Jalan MT Haryono, berseberangan dengan Pasar Peterongan. Kios di Jalan Sendowo dikelola oleh suaminya, sedangkan Ana mengelola kios barunya. Di kios itu Ana menyediakan berbagai kebutuhan pernikahan seperti undangan, aneka macam suvenir, aksesoris, kotak hantaran pernikahan juga tasbih buatannya. Dia berharap keberadaan kios ini bisa membantu calon pembeli menjangkau usahanya. Terlebih lokasinya cukup strategis, sehingga mudah dijangkau calon pembeli dari Semarang atas.
Menjaga Kepercayaan
Untuk membantunya mengelola bisnis ini, Ana tidak mempekerjakan karyawan, melainkan memberdayakan kedua anaknya. Untuk menggarap pesanan suvenir, dia menyerahkannya pada tenaga lepas harian yang sudah lama ikut membantunya. Ana tak mau mengecewakan pembelinya sedikitpun. Menurutnya, dengan memberikan uang muka pemesanan, berarti pembeli telah menaruh kepercayaannya pada usahanya. Kualitas dan kerapian suvenir selalu diutamakan. Untuk itu, Ana selalu mengecek suvenir yang akan diserahkan kepada pembeli. Khusus untuk hantaran pernikahan, Ana mengerjakannya sendiri agar hasilnya sesuai dengan selera dan keinginan pembeli. “Kalau sudah dipercaya ya kita harus bisa menjaga kepercayaan itu. Tepat janji, dan jangan kurangi mutu produk. Ini penting untuk menjaga pelanggan, karena pelanggan juga lah yang membuat usaha saya makin dikenal orang dan maju,” ujarnya. Di kedua kios yang dikelolanya, Ana optimis dapat memulihkan bisnis dan mengganti modal yang ikut terbakar. Terlebih pasar perlengkapan pernikahan di Semarang masih terbuka lebar. Dia cukup menyediakan berbagai kebutuhan pernikahan yang dapat dipilih masyarakat dari berbagai lapisan sosial ekonomi. “Tapi kita harus selalu berinovasi dan kreatif supaya dapat memenuhi selera dan keinginan konsumen,” katanya. Kehadiran BPR WM di tengah masa sulitnya dirasa Ana sangat membantu. “Saya puas jadi nasabah di BPR WM. Prosedurnya sederhana, cepat. Suku bunga terjangkau. Pelayanannya sangat bagus. Berbeda dengan bank pemerintah. Prosedurnya lama dan terlalu bertele-tele, itu pun belum tentu lolos. Padahal kami pedagang kecil butuh modal segera untuk usaha.” [red]
Leave a reply

Meninggalkan zona nyaman sebagai karyawan demi menjajal peruntungan di dunia usaha bukanlah pilihan yang mudah bagi Tri Meiyanti. Tak heran, ibu satu anak ini butuh waktu dua tahun untuk memantapkan keputusannya meninggalkan karir yang sudah 15 tahun dijalaninya setelah resmi mengundurkan diri dari sebuah bank asing ternama, Yanti, demikian Tri Meiyanti akrab disapa, didukung sang suami untuk memulai bisnis merangkai seserahan dan suvenir pernikahan. Awalnya, bisnis ini dipilih agar Yanti memiliki kesibukan di rumah. Lagipula, Yanti menyukai kegiatan rangkai-merangkai mahar dan seserahan.
Memanfaatkan garasi rumahnya, Yanti mulai membuat contoh seserahan. Foto seserahan buatannya dipromosikan di website miliknya, www. omahmanten.com. Dari pemasaran secara online, pesanan mulai berdatangan. Sembari mengerjakan pesanan, Yanti berinisiatif untuk menyewa sebuah ruko di kawasan Banyumanik, Semarang. Selain sebagai ruang pamer dan tempat berproduksi, ruko ini juga digunakan Yanti untuk melihat respon masyarakat terhadap bisnisnya.“Ternyata responnya bagus dan membuat saya makin yakin, bisnis ini ada prospeknya,” kata wanita kelahiran Semarang, 29 Mei 1970 ini.
Meski bisnisnya cukup menjanjikan, tak berarti perjalanan usaha Omah Manten terus mulus. Tiga tahun pertama adalah masa terberat bagi Yanti. Tak sekali Yanti merasakan jatuh bangun dalam menjalankan usahanya. Saat sedang putus asa, ia kerap berpikir untuk kembali menjadi karyawan. “Saat itu saya merasa sendiri. Jatuh bangun dan segala hal yang menguras pikiran saya rasakan sendiri. Tapi setelah bergabung dalam sebuah komunitas dan bertemu pengusaha lainnya, ada banyak hal yang bisa kami bagi bersama. Sharing pengalaman teman lain itu sangat membantu saya dalam memompa motivasi dan meyakini langkah yang saya pilih,” tuturnya. Dan benar saja. Memasuki tahun keempat, Yanti mulai terbiasa pada goncangan dan menikmati usahanya ini. “Sekarang saya menyesal, kenapa enggak resign dari dulu dan menekuni bisnis ini lebih awal. Ternyata bekerja di kantor itu mengungkung kita. Sedangkan dengan wirausaha, membuat kita belajar banyak hal dan menjadikan kita orang yang lebih berkembang,” ujarnya. Tak ingin terus-terusan terbeban biaya sewa ruko, Yanti dibantu BPR WM, membeli sebuah rumah di Jalan Waru Raya nomor 86. Di rumah ini, Yanti memproduksi sekaligus memajang aneka hantaran, seserahan dan suvenir pernikahan buatannya.
Demi memenuhi kebutuhan modal saat pesanan membludak, Yanti mengandalkan fasilitas pinjaman dari BPR WM. “Saya sangat terbantu oleh BPR WM dalam mengembangkan usaha. BPR WM tidak hanya menyediakan dana pinjaman, tapi juga berperan sebagai financial advisor. Karena kebutuhan modal saya biasanya bersifat periodik, jadi setiap ada rencana pinjaman, saya selalu diarahkan memilih pinjaman yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan bayar saya,” terangnya.
Menilik segala perjuangannya dari awal hingga Omah Manten telah berkembang seperti sekarang, menurut Yanti itu tak lepas dari kegigihan dan semangatnya untuk terus bertahan. Kepada para pengusaha yang tengah merintis bisnisnya atau yang tengah dilanda kesulitan dalam mengembangkan bisnis, Yanti berkenan berbagi kunci kesuksesannya. Kunci pertama, adalah membangun usaha yang berawal dari hobi.“Kedua, harus langsung berdiri ketika jatuh. Apalagi di tahun- tahun awal pasti banyak jatuhnya. Jatuh itu biasa, tapi kita harus langsung berdiri. Agar lebih semangat, ikutlah komunitas yang bisa saling sharing pengalaman dan memotivasi. Itu sangat berguna supaya tidak merasa berjuang sendiri,” sarannya. [Lau]
Leave a reply

Meldi Yonatan nyaris menapaki karir sebagai manager ketika dia memutuskan berhenti bekerja. Karirnya yang melesat bak roket ditinggalkannya demi menjalankan usaha suplai kepiting untuk rumah makan di Jalan Palagan, Yogyakarta. meski keputusannya untuk resign sempat ditawar oleh pimpinan perusahaan tempatnya bekerja, namun meldi tak berubah pikiran sedikitpun. dia tetap bertekad untuk berwirausaha dan menjadi bos untuk dirinya sendiri.
Bermodal BPKB motor bebek yang dimilikinya, meldi mengajukan bantuan permodalan dari BPR WM kantor cabang surakarta. awalnya, modal itu digunakannya untuk mengembangkan usaha suplai kepiting. namun, meldi tak pernah menyangka, kepiting-kepiting itu membukakan jalannya untuk menjadi supplier bahan makanan segar untuk Carrefour Transmart di wilayah soloraya.
Berkat keuletannya, dalam waktu tujuh tahun saja, meldy sudah mampu memperbesar usahanya. Kini Meldi pun tak hanya memasok sayur, melainkan buah, ikan dan telur. awal tahun ini, meldi menambahkan daging segar dalam daftar komoditi barang yang dia pasok ke jaringan supermarket yang sahamnya telah dimiliki sepenuhnya oleh bos Trans Corp, Chairil Tanjung. Dari usaha ini, ia pun bisa membeli rumah, mobil dan beberapa unit sepeda motor. “Kalau dulu saya tidak memutuskan resign, mungkin motor suzuki smash saya hanya naik level jadi Honda Vario,” ujar pria kelahiran balikpapan, 8 mei 1975 ini. di samping bisnis supplier, meldi juga mengelola bisnis sampingan di bidang event organizer dan biro wisata bernama aira Trans. bersama kakaknya, meldi juga tengah mengembangkan bisnis percetakan dan penerbitan buku. modal untuk mengembangkan usaha ini didapatkannya dari bisnis supplier yang merupakan bisnis utamanya. Meldy menambahkan, majunya usaha yang digelutinya saat ini tak lepas dari dukungan BPR WM. Bantuan permodalan dari BPR WM membantunya mempertahankan dan mengembangkan usahanya, tanpa membebani keuangannya.
BPR WM bunganya ringan, sangat membantu pengusaha seperti saya. saya senang jadi nasabah bPR Wm,” ujar meldi yang sudah menjadi nasabah bPR Wm sejak 2003 ini. Kepada para pembaca Wmagz, Meldi bersedia berbagi tips suksesnya dalam menjalankan usaha suplai bahan makanan segar. “Yang penting kita harus komitmen kepada siapa saja. Jangan mencla- mencle, supaya selalu dipercaya. Juga harus jujur, kalau untung ya ngomong untung, kalau rugi ya ngomong rugi,” tandasnya.
Leave a reply